Jakarta, GATRAnews - Di antara sekian banyak karya musik yang diciptakan Erros Djarot selama 40 tahun kariernya, banyak di antaranya yang terkait dengan dunia sinema Indonesia. Bahkan album soundtrack film Badai Pasti Berlalu (1977) disebut-sebut sebagai album terbaik Indonesia sepanjang masa oleh berbagai jurnalis dan kritikus musik. Tak terkecuali, lagu-lagu di album tersebut ternyata menginspirasi lagu dari film yang menandai kebangkitan perfilman Indonesia di era 2000-an setelah mati suri.
"Pada saat kami berdiskusi soal ilustrasi musik untuk Ada Apa Dengan Cinta ( AADC), pengaruhnya dari lagu-lagu Badai Pasti Berlalu yang dikenang sepanjang masa. Terima kasih untuk inspirasinya bagi kami," kata Melly Goeslaw yang menjadi penata musik film Ada Apa Dengan Cinta, dalam Konser 40 Tahun Berkarya Erros Djarot di Jakarta Convention Center, Jum`at (14/2).Erros juga dikenal sebagai sutradara film Tjoet Nja` Dhien yang dibintangi oleh Christine Hakim. Menurut Christine yang juga memberikan narasi dalam konser tersebut, film Tjoet Nya` Dhien bukan merupakan film biasa karena merupakan pernyataan sikap dan idealisme Erros Djarot. Dengan proses persiapan setahun dan pembuatan selama tiga tahun, komitmen dan totalitas budayawan adik Slamet Rahardjo itu membuatnya seakan-akan hidup di dunia ciptaannya. "Transformasi seluruh jiwa itu yang memberi makna lebih," kata Christine.Ewin Gutawa memimpin orkestrasi epik memainkan lagu mengiringi cuplikan film Tjoet Nja` Dhien, yang menampilkan adegan pengejaran pasukan pahlawan Aceh itu oleh Belanda di tengah hujan deras, kemudian Tjoet Nja` Dhien menyerang pengkhianat. Sutradara film Riri Riza juga memperkenalkan film Kantata Takwa yang digarap Erros tahun 1991, namun baru dapat disaksikan pada tahun 2008. "Film eksperimental yang unik dengan semangat berapi-api dari pusi Rendra dan lagu-lagu Barong`s Band," ungkap Riri.Band rock The S.I.G.I.T pun tampil membawakan lagu Moral dan Kembalikan Masa Depanku dengan aransemen dan gaya musik khas mereka. Band asal Bandung itu muncul dari dalam ruang panggung sebelah kanan yang awalnya ditutup. Mereka tampil dengan bersemangat bernuansa musik rock-orkestra, berpadu dengan orkestra Erwin Gutawa di tengah panggung. Penampilan ini juga menjadi pertunjukkan yang menarik dan langka karena The S.I.G.I.T dikenal jarang membawakan lagu berbahasa Indonesia. (*/Ven)
Add comment